Cari
  • Arif Asatar

Ketika Market Norm Mendominasi Dunia

Saat itu, air peluh mengalir di dahi. Aku berusaha meraih kertas tisu di sebelahku. Rupanya AC kantor siang itu tidak berdaya melawan tingginya suhu bumi. Namun, asiknya membaca buku Predictably Irrational oleh Dan Ariely membuat aku tak menggubris panasnya siang itu. Oh iya, kerjaan juga tidak aku gubris, hahaha!


Hal yang membuat aku tenggelam ke dalam buku itu, adalah saat Dan Ariely memaparkan bagaimana social norm dan market norm bekerja dalam kehidupan ini. Aku tidak akan menjelaskan dengan definisi, but let me try to give you some contexts of this case!


Ibu Ratih memanggil anak kosannya Jono. "Jon! Sini bentar, Nak!" "Ada apa, Buk!?" Jono menyambut suara Bu Ratih dengan mulut yang penuh makanan.

"Jono masih makan, Buuk!"

"Sini bentar, Jon!"

"Ibuk di mana sih?"

"Di kamar mandi!"

Beberapa detik Jono membisu, tidak percaya, berimajinasi, mukanya terlanjut mesum.

"Eh, Jon! Jangan mikir macam-macam! Ibuk minta tolong sanyonya mati. Kamu benerin gih, Ibuk lagi pake shampoo nih! Perih mata ibuk!"

"Oalah.... siap Buk!" Teriak Jono. Oh, kirain apaan, bikin kaget aja nih Ibuk nih, dalam hatinya bergumam.


Setelah ditolong oleh Jono, Ibu Ratih malamnya memasakkan nasi goreng paling enak untuk Jono sebagai bentuk terima kasih Ibu Ratih. This is how the social norm works. Ibu Ratih gives him an appreciation with a gift, instead of money (the market norm). Gimana? Aku rasa udah jelas ya bedanya social norm dan market norm?


Saat segalanya diukur dengan uang, itulah market norm. Ada yang butuh ada yang menyuplai. Begitu cara kerja market norm. Nowday, the market norm is driving all the world things.


Ada baik dan buruknya. Maksudnya, market norm atau social norm memiliki konteksnya masing-masing. Kadangkala, tidak semua hal harus diukur dengan angka-angka. Dalam buku Predictably Irrational, disebutkan bahwa social norm justru menghasilkan output yang tertinggi ketimbang market norm, how come?


Ada sebuah percobaan yang dilakukan oleh Dan Ariely dan James Heyman (a professor at the University of St. Thomas) untuk mencari tahu dampak dari social norm dan market norm. Berikut sekilas hasil eksperimennya:

1) Saat para relawan diminta untuk mengerjakan tugas dari peneliti tanpa imbalan apapun, ia memperoleh skor lebih tinggi daripada yang diberi imbalan uang.

2) Saat para relawan diminta mengerjakan tugas dari peneliti dengan imbalan berupa hadiah (bukan uang), skornya lebih tinggi daripada yang mengerjakan tanpa imbalan apapun.

3) Skor menurun saat para peneliti memberitahu nominal harga hadiah yang akan diberikan kepada kelompok relawan lainnya, namun masih lebih tinggi daripada yang diberi imbalan berupa uang.

Ini membuktikan bahwa sebetulnya, social norm lebih powerful ketimbang market norm. Ada banyak contoh lainnya di buku tersebut.


Berkaca dari situ, mari kita lihat bagaimana dunia bekerja hari ini. Semua hal ada harganya. Kalau kata orang jawa, "ra ono upah ora obah", yang artinya "tidak adak upah tidak bergerak." Ada juga yang menjadi becandaan akhir-akhir ini, "wani piro?" Ini mengindikasikan bahwa market norm lebih dominan ketimbang social norm dewasa ini.


Menurutku pribadi, kedua norma tersebut di atas memiliki konteks masing-masing sesuai yang aku sebutkan di atas tadi. Kadang, market norm dipakai kadang social norm yang harusnya dipakai. Secara tidak sadar, manusia saat ini menjauh dari karakter peduli terhadap sesama manusia dan alam sekitarnya.


Secara tidak sadar, saat mindset kita dikendalikan oleh market norm kita selalu hitung-hitungan untung dan rugi terhadap apapun. Misal, seharusnya di pinggiran sungai harus ada tanaman keras seperti bambu, aren, dan lainnya, tapi tidak ada yang mau peduli menanamnya. Dalam masing-masing benak, "rugi aku nanam, toh itu kan tanggung jawab semua. Enak aja pakai uangku sendiri. Bareng-bareng lah!" Padahal, perilaku peduli itu perintah Allah dalam Al-Quran dan menjadi kewajiban per individu. Betul tidak?


Pun di dunia kerja. Sulitnya membuat tim yang solid menjadi masalah dan kendala perusahaan mana pun. Ini adalah produk market norm yang tidak terkendali. "Itu kan bukan tugasku, itu kan tugasnya. Percuma aku bantu toh aku gak akan naik jabatan." Kalau dipikir-pikir, melakukan sesuatu yang baik untuk mendukung perusahaan dan memajukan perusahaan tidak ada yang dirugikan. Sebagai individu untung karena sikap peduli itu merupakan perintah Allah, untuk perusahaan sendiri juga untung. Tentu hal tersebut tidak mudah untuk dilakukan, tapi bukan berarti tidak mungkin dikelola.


"Cuy, waktunya pulang kantor, yok!" Temanku membuyarkan fokusku. Aku pun bergegas pulang. Otakku masih mencerna apa yang baru saja aku baca dari bukunya Dan Ariely. Sampai tulisan ini dibikin, aku masih belum menuntaskan bukunya. Semoga apa yang aku tulis ini bisa membawa manfaat untuk kamu yang membaca.

0 tampilan

©2019 by ARIF ASATAR. Proudly created with Wix.com