©2019 by ARIF ASATAR. Proudly created with Wix.com

ARIF ASATAR

Welcome to My Blog

It's my personal blog. I would like to share everything about books, life, and my thought(s). Hope you enjoy!

 
 
Cari
  • Arif Asatar

Kapan Nikah?

Secara pribadi, aku mau menulis pandanganku tentang pernikahan. Sejujurnya, aku udah sering dihujani pertanyaan, "kapan nikah? Mana pasangannya?" Udah gak kehitung lagi berapa kali aku ditanyain pertanyaan itu. Risih? Biasa aja.


Sekarang aku sudah bukan remaja lagi yang melihat pernikahan adalah tentang menyatukan seorang wanita dan pria yang diikat oleh rasa cinta. Ternyata, pernikahan jauh lebih sakral ketimbang hanya itu. Kata Bapak, "menikah itu bukan hanya menyatukan dua sejoli pria dan wanita saja, tapi juga keluarga besar, budaya, sejarah, prinsip, dan masa depan." Now, I can understand that, Dad.


Ternyata untuk memahami satu kalimat itu pun enggak gampang. Aku mengalami pengalaman buruk tentang ini terlebih dulu. Gagal dalam relationship sudah kulalui. Meski bukan pernikahan, tapi sangat menguras emosi. Sudah seperti bangunan yang ambruk, untuk mendirikannya kembali kokoh butuh materi, tenaga, pikiran, dan waktu.


Aku dulu menjalin sebuah hubungan yang menurutku cukup serius. Sejak dulu, aku ingin memilih sekali untuk seumur hidup, tapi aku akui dulu aku masih goblok, jadi enggak berpikir panjang. Sesuatu yang enggak rasional aku rasionalisasi. Segala yang jelas enggak mungkin, aku paksa untuk mungkin. Ujung-ujungnya, hubungan kami harus berakhir.


Aku enggak akan bercerita spesifik tentang ini menimbang menyangkut privasi orang lain, tapi aku ingin bercerita tentang hikmah yang aku dapatkan dari pengalaman tersebut.


Bikin Sakit Hati


Tentu kedua pihak merasa dirugikan. Tapi stereotip yang ada, di mana-mana salah laki-laki karena telah pernah memberi harapan. Aku sadar betul, bahwa saat terbawa suasana atau larut dengan nafsu (emosi), lisan sudah enggak bisa lagi difilter. Ungkapan manis atau pembahasan yang secara implisit memberi harapan jelas terucap.


Beruntungnya aku karena saat itu partnerku sangat dewasa dalam bersikap. Dia enggak menyalahkan aku karena telah pernah memberi dia harapan, sampai rugi banyak hal. Dia juga menyalahkan dirinya sendiri karena mau-maunya memakan harapan palsu dariku. Begitu pun dengan diriku. Kalau ditanya, siapa yang salah di antara kami berdua kala itu? Dengan tegas aku menjawab salahku. Aku yang bertanggungjawab atas kejadian itu. Aku yang bersalah.


Kejadian itu membuat aku trauma. Aku takut akan membuat sakit hati orang lain lagi. Sehingga sampai saat ini, untuk membuka hati rasanya masih berat. Takut kalau keputusan yang aku buat akan berbuah pahit lagi. Ini salah satu kenapa sampai saat ini aku masih enjoy single dan sepertinya dalam jangka dekat belum akan menikah. Jadi jangan tanya-tanya lagi kapan nikah yaa......


Menata Masa Depan


Sejak kecil, aku diberi pengertian tentang hidup. Bapak dan ibuku selalu berpesan bahwa apa yang aku lakukan saat ini, akan membentuk masa depanku. Masa depan adalah apa yang aku lakukan saat ini. Sesederhana itu. Jadi, menengok ke belakang lagi, selama dua tahun aku menjalin hubungan yang akhirnya pupus juga. Berarti apa hubungan saat itu kalau hanya menyisakan luka? Wooah sok puitis*


Dan benar, semenjak tahun 2016 akhir (awal masa bakti kejombloanku) sampai saat ini aku lebih bisa menikmati hidupku sendiri. Aku enggak ribet sama orang lain. Waktuku lebih berharga. Pikiranku lebih fokus. Semua lebih tertata dan aku sangat nyaman dengan keadaanku sekarang.


Lumrahnya manusia pasti berharap kehidupan rumah tangganya tertata, harmonis, kecukupan atau malah syukur-syukur lebih, punya anak-anak yang shaleh dan shalehah, rumah yang bagus, dan sebagainya. Aku juga memiliki angan seperti itu. Naif kalau aku enggak berpikir sedemikian itu. Oleh karenanya, aku sedari sekarang berusaha mewujudkan itu.


Bapak berpesan, "Orientasi hidup ini bukan harta atau kebendaan yo, Le... Tapi mati slamet. Ngge opo sugih, pangkat duwur lak matine ora slamet?" Intinya, orientasi hidup ini adalah untuk berproses menuju keselamatan setelah meninggal dunia, bukan "sekadar" harta benda atau kecukupan materi dunia. Tapi, Beliau juga berpesan, "Hananging, sak bejo-bejone manungsa, isih bejo kang iling lan waspada." Seberuntungnya orang, yang paling beruntung adalah orang yang selalu "ingat" dan "waspada".


Ingat atas keberadaan Tuhan yang ada di dalam hati (berzikir), dan waspada terhadap menyusupnya hawa nafsu (iri, dengki, riya', takkabur, malas, abai, apatis, boros, hedon, dsb.). Aku percaya, kalau aku sekarang memproses diriku sebaik mungkin, Allah akan memberi jalan untukku. Enggak peduli nanti bisa kaya atau enggak, tapi yang jelas Allah akan memberikan jalan terbaik-Nya untukku. Sekarang aku hanya butuh berusaha dan pasrah dengan kehendak Allah.


Secara pribadi, aku kurang setuju dengan prinsip mbonek alias nekat. Yang penting nikah dulu, masa depan ditata bersama-sama. Aku enggak setuju dengan statement itu. Aku setuju dengan menata masa depan bersama-sama, tapi kalau menikah tanpa persiapan apapun, itu menurutku kurang tepat.


Bukankah aku enggak akan bahagia atau tentram manakala hutang di sana-sini. Bagaimana perasaanku kalau anakku ingin beli buku atau peralatan lainnya untuk belajar tapi aku enggak bisa berbuat apa-apa. Aku pasti sangat merasa bersalah terhadap anak-anakku dan istriku.


Eits, tapi aku juga bukan berarti sok idealis. Mapan dulu baru menikah. Kalau memang ketemu yang cocok, why not? Yang penting, dia mau menerima kekuranganku (materi, tampang fisik, dsb.). Kalau dia ngerasa okay dengan kondisiku yang sekarang, ya lanjut aja. Asalkan dia mau sama-sama berjuang dan enggak akan mengeluh dengan keadaan saat ini, isokaaay lah! Sekarang, aku belum menemukan yang cocok sama aku. Selow ae ah!


Aku tahu, ini akan menjadi diskusi yang menarik. Setiap orang memiliki pandangan berbeda, bukan? Jadi jangan anggap perbedaan ini tentang benar dan salah. Tidak ada yang lebih buruk. Semua memiliki konsekuensi logis. Aku lebih mempersiapkan diri untuk menghadapi konsekuensi logis milikku sendiri.


Sekali lagi, itu alasan kenapa aku sampai saat ini masih single. Jangan ditanya mulu ya. Risih sih enggak, udah bosan aja dengarnya. Isi kolom subscribe untuk ngikutin postingan aku. Tambahkan opinimu tentang tulisanku di atas di kolom komentar. Biar jadi tempat diskusi.

166 tampilan4 komentar
 
 

CONTACT

Thank you for visiting my blog. I'd love to know you get in touch with me.  Let's be a friend and share!

East Java, Indonesia

Laptop & Coffee