©2019 by ARIF ASATAR. Proudly created with Wix.com

ARIF ASATAR

Welcome to My Blog

It's my personal blog. I would like to share everything about books, life, and my thought(s). Hope you enjoy!

 
 
Cari
  • Arif Asatar

Kapan Harus Bersikap Bodo Amat?

Hai para pembaca setia blogku. Akhir-akhir ini aku sedang dilanda overthinking. Aku terlalu memikirkan apa yang orang lain akan pikirkan tentangku. I am really worried about what other people wanna say about me if I am ........ or do .......


For your information, aku orangnya sensitif. Aku memiliki ekspektasi orang-orang menyukaiku, no exception even I know i can't be that kind of person. How fool I am, aren't I? Tryin' being perfect is a suckest thing after Donald Trump's coronation. Tapi jujur saja, aku sangat kesulitan mengalahkan diriku sendiri atas kekhawatiranku ini. Hal ini selalu melemahkanku untuk melakukan sesuatu dan meningkatkan produktivitasku. I get mental illness: anxiety. It really drives me crazy undoubtedly.


Salah satu contoh yang paling sering aku alami adalah ketika aku akan menolak sesuatu. Membayangkan konsekuensi logis jika aku menolak keinginan atau perintah seseorang saja kadang bikin gigi ngilu. Tapi biar begitu, aku selalu berlatih bersikap bodo amat. Orang pasti akan menjauh atau enggak respek sama aku lagi kalau ditolak. Itu yang aku bayangkan sejak awal. Setiap orang enggak suka ditolak, kan?


Meski begitu, aku memiliki tolok ukur kapan harus menolak dan kapan harus mengiyakan seseorang. Karena, yang memiliki kendali atas diri sendiri sebenarnya ya aku sendiri, bukan orang lain. Orang lain mengendalikan dirinya sendiri dan aku juga harusnya mengendalikan diriku sendiri. Kalau aku dikendalikan oleh orang lain, lantas mau jadi apa aku kelak? Kebanyakan orang, jawaban "iya" adalah jawaban default. Dia menjawab "iya", tanpa mengetahui dan berpikir why-nya. Someday, it will ruin his life and even other people won't care that much!


"If you don't prioritize yourself, so other people will." ~Simon Sinek (Start with Why, 2009).

Aku akan memberi beberapa kondisi kapan aku akan menolak permintaan seseorang dan bagaimana cara supaya orang lain enggak tersinggung dengan penolakan kita malah justru respek.


Kapan Harus Menolak?


1. Tidak Jelas Why-nya.

Superior kadang memerintah inferiornya tanpa maksud yang jelas, Hanya karena malas melakukan sesuatu akhirnya menyuruh sang inferior. It's sad but true. Kalau sudah seperti ini, aku suka menolak. Apalagi kalau ada maksud terselubung hanya untuk memanfaatkan kemampuanku, Totally rejected!


Lagi pula, buat apa sih melakukan sesuatu yang tidak jelas tujuannya? Kadang orang akan memprotes pernyataanku ini, "kan semua adalah pembelajaran dan yang penting proses bukan hasil!" Aku suka sebel sama orang yang berpikir dengan cara seperti ini. Mereka enggak tahu konteks pembicaraan.


Sebenarnya aku enggak masalah meluangkan waktu dan tenaga apalagi materi untuk membantu orang lain, hanya saja harus memenuhi satu kondisi dulu: Jelas why-nya. Meski di akhir tidak berhasil, aku tetap dengan senang hati membantunya. Now, do you get my point?


2. Mengalihkan Fokus


Selain harus jelas why-nya, selama permintaannya enggak mengganggu fokusku, kemungkinan besar aku mau atau menjawab iya. Jika enggak memenuhi kondisi itu, pasti aku tolak.


Maksud mengalihkan fokus yang seperti apa? Misal, aku sedang mengembangkan kemampuan tertentu: Berbisnis. Tiba-tiba ada penawaran mengajar di sekolah, jelas sekali akan aku tolak. Aku enggak berniat jahat, tapi aku ingin menciptakan kondisi win-win.


Kecuali jika sesekali ada momen untuk share pengalaman berbisnis baru aku akan mau. Tapi untuk jadi seorang pengajar full timer, BIG NO! Probably in the future, but not now.


Lalu bagaimana cara menolak yang baik? Tetap menghargai dan tidak membuat orang lain merasa terendahkan?


1. Terima kasih karena telah mempercayai saya untuk melakukan ini, tapi........

2. Saya rasa ide Anda sangat brilian, tapi .....

3. Bukan saya tidak peduli dengan apa yang baru saja Anda katakan, tapi ........


Rumusnya, (Statement A + tapi + statement B). Kata "tapi" adalah kata yang paling manjur untuk mematahkan kalimat sebelumnya. "Kamu cantik, tapi aku enggak cinta" itu sama dengan, "aku enggak cinta kamu" dengan lebih halus.


Bersikap bodo amat memang berat, karena bertentangan dengan hati nurani. Overthinking may comes and weaken my spirit.


Yang aku maksud bersikap bodo amat bukan kemudian mengesampingkan sikap peduli terhadap orang lain. Sangat salah bila menjadi pribadi yang egois dan apatis. Namun, aku kira, semua yang berlebihan itu cenderung kurang baik. Pasti ada porsi dan konteks yang menyertai. Semua norma disertai dengan konteks, atau menjadi taklid terhadap sebuah norma.


Semua orang bebas memilih. Semua orang pula akan berhadapan dengan konsekuensi logisnya -- bisa berupa peer-pressure. Secara pribadi, aku memilih untuk bersikap bodo amat dengan segala hal yang dapat merugikanku. Lebih tepatnya sekarang sedang belajar bodo amat dengan energi negatif yang akan melemahkan spiritku.


Caraku bersikap bodo amat? Salah satunya dengan menulis blog ini. Apa yang akan dipikirkan oleh pembaca terhadap tulisanku, tidak pernah sama sekali aku pikirkan. Karena, kebanyakan orang lain sejatinya hanya mengamati dan menilai aku, bukan benar-benar peduli denganku. So, why am I worried about?


Last but not least, jika sekarang kita macet karena takut dengan orang lain, lantas kemudian hari hidup kita terpuruk apakah mereka benar-benar akan peduli dengan kita? aku ulangi, apakah mereka akan peduli dengan kita? Atau malah justru digunjing lagi? Who knows?



169 tampilan10 komentar
 
 

CONTACT

Thank you for visiting my blog. I'd love to know you get in touch with me.  Let's be a friend and share!

East Java, Indonesia

Laptop & Coffee