©2019 by ARIF ASATAR. Proudly created with Wix.com

ARIF ASATAR

Welcome to My Blog

It's my personal blog. I would like to share everything about books, life, and my thought(s). Hope you enjoy!

 
 
Cari
  • Arif Asatar

Deuce in Love #2

Matahari tanpa ampun memeras keringat orang-orang yang sedang berjalan di jalan Malioboro. Suara kendaraan yang berlalu lalang tak dihiraukan Dinda lagi. Dia membaca chat terakhir dari ibunya semalam.


"Dinda, selamat ulang tahun yang ke-21. Mama sayang Dinda. Semoga, Dinda dapat meraih cita-citanya, jadi anak yang shalehah. Dan, disayang calon mertua, hehe......"


Air mata Dinda tidak dapat lagi keluar. Meski hatinya meronta. "Iya, Ma. Dinda juga sayang Mama, cinta Mama. Mama yang kuat ya! Dinda selalu ada untuk Mama." Itu balasan Dinda untuk ibunya.


"Wah, cantiknyaaa.... !" Suara Bima memecah pilu.

"Diem deh Lo, Bim. Lo muji gue biar gak kena semprot kan lo! Telat mulu Lo!"

"Ya sorry, Din. Pak Kunto lama banget kelasnya. Kan kamu tahu sendiri to ngajarnya gimana."

"Iya, gue tahu, 'jadi seorang mahasiswa harus cinta tanah air! Jangan malas-malas belajar! Harus seperti Bapak, Bapak dulu adalah pahlawan revolusi....' Hahaha...!" Suara berat dan gerakan telunjuk ke atas seperti Bung Tomo, Dinda menirukan gaya Pak Kunto. Bima pun tertawa terbahak-bahak.

"Tapi, tumben iya gak sih? Gak biasanya kamu dandan begini, buat siapa sih?" Goda Bima.

"Apaan si Lo! Kita mau ke mana nih?"

"Kamu lapar gak?" Dinda mengangguk sambil menggosok perutnya.

"Yaudah kita ke SS aja."


Cinta Dinda untuk ayahnya mengalami divergensi. Yang semula bermuara pada satu titik, kini melaju tak beralamat. Dia melakukan apapun yang bisa membuat dirinya lupa dengan apa yang terjadi dengan ibu, keluarganya.


"Kak, bebek panggangnya 1, nasi 2, minumnya es jeruk 2, sambal ijo 2, lelenya 1, sama jamur 1 ya Mas? Sudah lengkap?"

"Iya, Mas. Makasih yaaa.." Jawab Bima.

"Bim, Lo suka banget ke sini."

"Iya, ini yang paling enak, murah, dan pelayanannya itu lho bikin kangen. Cocok sama kantong lah! Yaa, orangtuaku orang biasa, Din., kalo kamu kan..."

"Apaan sih Lo, sebel gue! Gue siram sambel muka Lo mau?" Mata bulat Dinda yang semula indah berubah menjadi tatapan harimau yang sedang menerkam mangsanya.

"Eh, ampun-ampun. Wong Aku cuma becanda lho, Din..."

"Gak lucu tau!"

"Iya, sorry.... Eh, aku mau ke belakang dulu, Din." Bima berlari ke kamar mandi.

"Eh, makan aja belom, gimana sih, dasar ni bocah....." Gerutu Dinda.


Di hari yang spesialnya ini, Dinda ingin melakukan apapun yang membuat dirinya senang. Berdandan tidak seperti biasanya untuk kepuasan dirinya sendiri. Ia telah berencana melakukan sesuatu yang gila dan liar. Dia ingin membeli apapun yang dia mau, dia ingin ini-itu, apapun yang dia ingin lakukan. Menunjukkan pada dunia bahwa dia patut untuk dikasihani, sial, dan hancur.


Bima menatap kaca. Merapikan rambutnya, bajunya, celana. Memutar melihat dirinya sendiri. Menata lagi rambutnya. Menatap kaca lagi. Menarik napas panjang. Ia memegangi tasnya yang isinya adalah hadiah untuk Dinda. Ia menarik napas lagi. lalu berjalan ke luar. Lantunan lagu Dia Milikku punya Yovie&Nuno serasa terdengar seperti di film Bollywood. Semakin dekat dengan meja makan, lagu terdengar semakin keras, begitu juga dengan detak jantung Bima yang semakin berdebar. Ini adalah saatnya bagi dia untuk terus terang kepada Dinda.


"Semalam makan apa sih Lo, Bim? Belum makan malah udah turun mesin."

"Hehehe... enggak kok." Suhu tubuh Bima tiba-tiba jadi dingin. Tubuhnya berasa tremor.

"Dinda...."

"Hmm.. apa?"


Oh my God! Bibirnya yang merah merekah itu, rambut yang dikuncir ke belakang menyisakan beberapa helai di samping kuping, ditambah poninya, matanya yang bening bulat, dan lesung pipinya telah menghantam keberanian Bima.


"Apa, Bim? Kok diem...."

"Ehm... Gini Din, sebenarnya aku..." HP Dinda bergetar.

"Eh, sebentar-sebentar...... Ada yang telpon gue. Bentar ya.." Dinda membuka totebag-nya berusaha meraih handphone-nya.


"Iya, waalaikumsalam.... Iya... waaah makasih, Mas! Iya, amin... Iya... Iya.... Waaah makasih banyak .... Iya... Iya, ehm.... Aku weekend ini pulang. Yaudah ketemu aja nanti di rumah. Iya.... Nonton ya? Filmnya apa?"


Bima melihat pancaran sinar mata Dinda yang tampak senang. Bima menerka-nerka sosok di balik handphone yang sedang berbicara dengan Dinda. Saat itu, keberanian Bima yang sudah tinggal separuh, semakin terkikis habis.


"Iya... makasih yaa... iya, amin... Salam untuk ibunya ya... waalaikumsalam." Dinda menutup handphone-nya.


"Sorry, sorry, tadi mau bilang apa, Bim?"

"Hehehe... enggak, aku mau bilang, sebenarnya perutku agak bermasalah. Aku ke belakang lagi ya!"

"Eh, Lo sakit? Bim! Bima! Bima!" Bima sangat tergesa-gesa ke belakang. Kini lantunan lagu Dia Milikku berubah jadi original soundtrack Dark Knight Rises. Kacau!


Bima duduk di WC sambil terus menerka-nerka siapa orang yang barusan menelpon Dinda. Suaranya jelas laki-laki. Apakah kakak iparnya, tapi tidak mungkin. Karena kakak iparnya jarang sekali bahkan hampir tidak pernah telpon dia. Lagi pula, suaranya jelas bukan dua kakak iparnya apalagi ayahnya. Yang jelas, Bima sekarang cemas dan tidak nafsu makan.


99 tampilan
 
 

CONTACT

Thank you for visiting my blog. I'd love to know you get in touch with me.  Let's be a friend and share!

East Java, Indonesia

Laptop & Coffee