Cari
  • Arif Asatar

Deuce in Love #1

Diperbarui: 2 Nov 2019

Hai semua, kali ini aku menulis cerita fiksi. Sejak dulu, menulis novel adalah salah satu hal yang ingin aku lakukan. And, I think it's time!


Aku akan menuliskan novel ini secara berkala. Jadi, terus ikutin blog aku. Jangan sampai terlewat ya!



#1


“Bim, besok Lo sibuk gak? Temenin gue dong.”

“Lagi? Oke, mau ke mana kali ini?”

“Hm, udah besok gampang, ke Malioboro juga gak apa-apa.”

“Loh, Malioboro? Bukannya tiap hari kamu lewat situ kalo ke kampus? Enggak bosan, Din?”

“Santai, dipikir besok aja ke mananya, bisa ya?”

“Oke deh, besok aku jemput kamu di Kos.”

“Thanks, Bim. Cuma Lo yang bisa bikin gue baikan.”


Ada tidak hal yang lebih menyakitkan dari patah hati? Saat sudah terlalu cinta dan sayang, tapi kemudian perasaan itu dikhianati. Bukan dikhianati oleh pacar, tapi dikhianati oleh ayah sendiri. Ayah Dinda menikah siri tanpa seizin ibunya. Lebih tepatnya, ayah Dinda menikah lagi dengan perempuan lain.


Sebagai anak perempuan terakhir yang belum menikah, hatinya benar-benar pecah berkeping-keping. Bukannya matahari tidak punya empati namun tidak pernah berkhianat pada rembulan? Tapi kenapa manusia yang telah diciptakan dengan sesempurna ini, masih bisa berkhianat? Lalu, untuk apa Tuhan menciptakan rasa jika tidak dapat berempati?


Ini sudah bulan ke-delapan semenjak ayahnya menikah lagi. Keadaan ibu kandungnya tidak kunjung membaik. Dinda sangat bisa merasakan apa yang ibunya sedang rasakan. Laki-laki dapat melakukan segalanya atas perempuan dengan dalil imam keluarga. Bagi Dinda, Tuhan telah melakukan satu kesalahan karena menurunkan ayat tersebut ke dalam Al-Qur’an.


Jarum jam menunjukkan angka 3. Ini sudah pagi, Dinda masih terbaring lemas tidak berdaya. Merasa tidak percaya dengan yang terjadi dengan keluarganya.


“Din...” Hp Dinda menyala. Ibunya mengirimkan pesan kepadanya.

“Apa, Ma?”

“Lho, kamu kok belum tidur?”

“Iya, Ma. Mama gak usah khawatir. Dinda barusan aja selesai ngejain tugas. Mama sendiri kenapa belum istirahat?”

“Gak apa-apa, Din. Mama cuma ingin tahu kabar kamu.”


Air mata Dinda menetes. Dinda dapat merasakan apa yang sedang terjadi di rumah, atau apa yang barusan terjadi di rumahnya. Jemari Dinda tiba-tiba bergetar, tidak kuasa menulis balasan untuk ibunya.


“Mama di sini baik-baik saja, Nak. Kamu enggak usah khawatirin Mama. Kamu kuliah yang benar di sana, ya! Jangan aneh-aneh. Kamu harus istirahat sekarang, besok ada kuliah kan?"


Dinda semakin terisak. Dia tidak mampu lagi menulis balasan untuk ibunya yang dicintainya itu. Tidak lagi ditahan, tangisnya itu semakin dihempaskannya, sampai ia jatuh tertidur.



0 tampilan

©2019 by ARIF ASATAR. Proudly created with Wix.com