Cari
  • Arif Asatar

Dampak Pengabaian Pada Orang Lain (Pun Anak-anak)

Mari bermain tebak-tebakan, "hidup kita ini sebetulnya sebuah komedi atau justru tragedy?"


Berapa kali kita berharap lalu kita sakit karena memiliki harapan itu? Berapa kali kita mendapatkan apa yang benar-benar kita mau? Berapa kali dalam hidup kita merasakan benar-benar disayang, dimiliki, dicintai, dan dianggap ada oleh orang lain (keluarga, teman, lingkungan)?


Arthur, seorang bocah yang memiliki trauma otak parah akibat kekerasan yang dialaminya semenjak kecil, mengalami hari-hari yang buruk. Karena penyakitnya itu, ia akan tertawa saat merasakan kesedihan. Tidak sedikit orang-orang yang melakukan hal buruk kepadanya karena salah paham dengan tertawanya yang aneh dan muncul secara tiba-tiba. Tuhan seolah tidak memberi alasannya untuk melanjutkan hidupnya.


Seperti anak-anak yang lain, dia juga mencintai orang lain. Arthur juga mengagumi ibunya, kecuali ayahnya yang dia tidak tahu sedang di mana. Dia sangat mencintai ibunya. Arthur adalah anak yang baik dan menolak untuk membalas kepada siapa pun yang berlaku buruk terhadapnya.


"Hey Murray, I've loved you since I was a kid. I love your performance, comedy, and your tv show." Katanya saat dia menghadiri acara paling populer di zaman itu.

"Thank you! What's your name, Son?" Balas Murray.

"Arthur, my name's Arthur."

"Where do you come from?"

"My mom's home." Penonton tertawa.

"Don't worry, Son. I'd ever lived with my parents before I have my jobs now. Ladies and gentlemen, give applause for him!"


Dalam hidupnya, dia baru merasakan diterima dan dianggap ada oleh orang lain. Hanya saat itu saja. Bahasa cintanya diterima oleh Murray, sang pembawa acara saat itu. Seketika itu, semua yang terjadi terhadapnya di masa lalu, terasa ringan dan mudah direlakan.


Arthur adalah seorang stand up comedian. Suatu ketika, dia mendapat panggung untuk tampil sebagai penampil komedi tunggal (stand up comedian). Sepertiga waktunya, Arthur hanya tertawa. Tertawa yang sulit dimengerti oleh audiens. Itu karena penyakitnya. Dia merasa terharu karena mendapat kesempatan untuk tampil pertama kalinya sebagai stand up comedian. Sekali lagi, ini tentang penyakitnya. Ia tidak bisa menahan tawanya.


Karena hal itu, videonya viral dan ditayangkan oleh Murray di acaranya. Video Arthur ditertawai oleh para penonton Murray's Show. Murray menertawakan penyakit Arthur, bukan komedi Arthur. Sialnya, Arthur menonton live acara tersebut di rumah sakit saat merawat ibunya yang terserang stroke. Sekali lagi, bahasa cintanya terhianati.


Semula cinta menjadi benci. Dendam. Amarah. Brutal. Singkat cerita, Arthur membunuh Murray dalam pertunjukan live-nya.


Hal tersebut bisa terjadi? Who knows and who cares? A comedy turns into tragedy.


Mengaca pada kejadian itu, aku bertanya-tanya dalam diriku, "berapa kali aku mengabaikan perhatian orang lain kepadaku? Berapa kali aku membisu atas rasa sayang dari orang-orang di sekitarku? Bagaimana perasaannya sekarang terhadapku? Dendam, benci, atau berhasrat untuk membunuhku?


Temanku bilang, "melihat dari dampaknya, hal yang paling keji adalah mengabaikan, kemudian melakukan tindak kekerasan. Itu tulis Daniel Goleman dalam bukunya Emotional Intelligence."


Setiap orang punya bahasa cintanya masing-masing. Tentang bahasa cinta ini, aku akan bahas lain waktu. Intinya, setiap orang berharap kepada pasangan atau siapa pun di dekatnya secara berbeda. Ada yang lebih suka diberi hadiah, mendapat quality time, mendapat pujian, dilayani, dan sentuhan fisik. Ada buku yang membahas ini dengan lengkap: The Five Languages of Love oleh Gary Chapman. Aku ulangi, aku bahas lain waktu.


Arthur sama sekali tidak mendapatkan apa yang dimau. Dipuji? sama sekali tidak. Dia malah diolok-olok karena aneh (freak). Diberi hadiah? Nope. Siapa yang peduli dengan anak yatim miskin dan aneh seperti dia. Dipeluk? Teman saja dia tidak punya. Quality time? Ayahnya pergi menghianati ibunya. Being served? jangan berharap, sehari-harinya dia selalu dibully, dimaki, dan mendapat kekerasan dari orang lain.


Akumulasi dari pengabaian yang diterima Arthur, akhirnya berbuah tragedi. "I thought, I would regret what I've done; killing people. But, I don't." Kamu tahu Arthur yang aku maksud?


Now, please answer the question I've mentioned above: is our life a comedy or even a tragedy?



Aku merekomendasikan para orang tua, guru, dan mahasiswa untuk menonton film tersebut. Banyak kritik sosial yang terkandung di dalam film tersebut. Enjoy the trailer below!




0 tampilan

©2019 by ARIF ASATAR. Proudly created with Wix.com