Cari
  • Arif Asatar

Belajar Bersyukur

Actually, yesterday I would write this thing, tapi karena udah capek dan telfonan sama kawan-kawan alumni Awmun 3, jadi kepending. Sekarang lah waktunya aku menulis.


Sejujurnya, akhir-akhir ini aku kembali tersadar bahwa orientasi hidupku sedikit bergeser. Selama berbulan-bulan, aku ngerasa hidupku tidak tenang. Rasanya ada yang kurang pas di hati. Ada yang mengganggu pikiranku. Alhamdulillah, kemarin setelah membaca buku Predictably Irrational by Dan Ariely dan diskusi dengan kawan-kawan kantor aku menemukan ada yang keliru di diriku.


Pertama, aku enggak sadar bahwa aku kurang mengamalkan harta yang aku miliki. Aku larut dengan materi yang aku punya. Terlalu boros, keluar untuk A, B, C dengan mudah. Padahal, seharusnya aku memprioritaskan hartaku untuk membuat lakon dan pitukon. Kalau perasaan tidak tenang, pesan Guruku, "Kalau jasad dipaksa untuk mengamalkan ibadah syariat terasa malas, itu karena kurang lakon, sedangkan jika rasa hati kumanthil dengan dunia, itu karena kurangnya pitukon."


"Saat hati merasa gundah-gulana, susah, sedih, atau bahkan senang, nyaman, dan sebagainya, itu adalah ayat-ayat Allah yang nyata atau tanda-tanda adanya utusan-Nya yang membawa An-Nubuwah." ~ Bpk. Kiai Tanjung.

Mulai sekarang, aku usahakan untuk mengutamakan pitukon dalam setiap pendapatanku. Aku benar-benar tersadar, bahwa meski tinggal di rumah yang mewah, fasilitas tercukupi, uang juga enggak kurang, tetap bisa merasakan ketidaknyamanan atau ketidaktenteraman di hati. Lalu untuk apa semua itu kalau membuat hati enggak nyaman?


Ternyata niat dan tujuan itu benar-benar memegang peran yang sangat penting. Saat semua kugantungkan kepada Allah dan Rasul-Nya, pasrah dengan keputusan-Nya dan tetap berusaha atau berikhtiar, hati ini menjadi tenteram. Sedangkan jika yang berperan adalah nafsu untuk nafsu, justru sebaliknya. Hati ini selalu merasa kurang.


Aku ingin menuliskan resolusiku di tahun 2020. Tapi sepertinya enggak di tulisan yang ini. Besok atau lusa, aku akan menulis target pencapaianku di tahun 2020. Di sisa-sisa tahun 2019 ini, aku ingin berkontemplasi atau merenung tentang niat dan tujuan yang aku tetapkan. Aku ingin mengoreksi mindset-ku yang telah jauh bergeser.


Itu aja yang ingin aku tulis malam ini. Terlalu pendek? Soalnya udah ngantuk. Seharian kerja dari pagi sampai malam. Besok-besok aku coba nulis yang agak panjang dan terstruktur.





0 tampilan

©2019 by ARIF ASATAR. Proudly created with Wix.com